Agustus,
Bulan makna ganda
Diantara beribu suku kata
Yang mapan di kalender saya
Bulan ini mendung hakikatnya
Dingin membuat meriang suhunya
Sedang saya berkutat dengan kumparan kata
"maaf" disana
diwajah besi milik saya
September,
Sudah pekat rupanya
Hitam, kelam bentuk pariwara
Hanya satu dasawarsa
Tak sampai lama-lama
SUdah bosan mungkin hatinya
Tapi belum saya rasa dalam sukma
Apa itu bosan atau lainnya?
Mungkin sudah hakikatnya
Tapi bukan kodratnya
"jahat" ini yang kedua
Terpampang tajam disana
Oktober,
Lebat, sudah waktunya
si kalbu merana
Meringis diiris mantap dengan kata
Menahan suka atau duka
Hanya untaian kata
Yang kan jelaskan semuanya
Ini anugerah atau kehampaan tepatnya
Tanyakan saja padanya
Tapi jangan pada saya
Karna pojokan itu punya saya
Kesendirian itu saya
Kesepian itu makanan utamanya
Rintih kepedihan sebagai penutupnya
"sabar" begitu lembut katanya
Tapi menusuk tepat pada saya
Hidupkan beribu luka
Yang meradang adanya
November,
Gerimis, tak selebat kemarin, ya
Tapi tetap saja
Rintik yang tetap rintik bukan saja
Bukan pula tarian anak kaya
yang berlimang harta
Atau anak jalanan di Jakarta
Yang senang karna saya
tidak, bukan Jakarta
Mungkin, Surabaya
Atau daerah Sumatra
Tapi ini berbeda
Masih ada di dalam selimut Jawa
Kental adat pesona
Menggairah siapapun jua
dari sebutan dirinya
Atau sekedar teman saja
"............" Indah katanya
Menyeruak romansa
ikan busuk tak berdaya
Yang hantam dinding Minda
untuk berkasar kata
Tapi hampir reda
Surabaya, 16 NOVEMBER 2018-untuk siapa?ahh jangan tanya...cukup aku, dia, dan tuhanku yang tahu :)-

0 Comments