Kala Itu


  J
ar besok minggu kita makan-makan di rumahmu ya.” Ucap seorang perempuan. Dia kakak kelasku di sekolah. Sembari tersenyum menyindir. Kami berdua di lorong sekolah setidaknya itulah yang ku tahu saat itu. saat mentari hendak bersembunyi karena bulan mulai merengek mau datang.
                “hmm…gimana ya?” aku menatap langit langit. Bimbang. Karena ku tilik beberapa hal yang tak ingin semua orang tahu. Rumahku.
                “ayolah jar kapan lagi anak teater bisa makan-makan, kamu tahu sendiri kan. Anak teater masih belum kompak.” Sembari menyeringai. Memelas. Menunjukkan muka yang memancing ibaku.
                Bimbangku terhapus, “baiklah kalau gitu, terserah deh aku ngikut aja mbak. Toh ya apalah dayaku yang hanya seorang babu.” sahutku bercanda. Kami tertawa.
                “tapi mau makan apa mbak?” tanyaku memecah tawa. Lorong seketika lengang. Diam sesaat. Dia pun mulai menengadahkan kepalanya ke langit langit. Entah apa yang di cari. Mungkin cicak atau laron atau apalah itu namanya yang sering nemplok di dinding dan langit-langit.
                Aku, melayang kepada alam pikiranku. Bagaimana jika mereka tahu rumahku? Bagaimana jika nanti mereka akan menyindirku? Bagaimana caranya agar aku terlihat ramah? Padahal selama ini aku selalu cuek kepada mereka. Bodo amat. Begitu pikirku biasaynya, karena memang bukan urusanku dan tidak menguntungkanku. Daun berayun mengikuti alunan angin. Lapangan sekolah yang sedari tadi kosong menyisakan sebuah ruang hampa. Sepi.
                “ahhh….” Celetuknya. Semangat. Memecah lamunanku.
                “apa mbak? He he ha he.”
                “hehe..” dia menyeringai. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
                “kita makan rujak aja Jar kan gampang tuh. Oke?” lanjutnya ceri seakan menemukan harta karun.
                Aku terdiam. Rujak?
                “iya deh.” Jawabku singkat. Pasrah.
                Dia kemudian tersenyum. Mnegucapkan terima kasih. Sampai jumpa besok. Mengingatkan untuk jangan lupa. Berlari hingga tenggelam menuruni tangga. Aku tetap berdiri kaku memandang langit biru dari temaptku berdiri. Sunyi. Sepi. Nyaman rasanya.
                Hingga mentari telah berada di kaki cakrawala. Waktunya pulang, pikirku. Aku kembali melayang dalam  imajinasiku sendiri. Memikirkan bagaimana besok bisa menjalankan semua cara yang di gelarnya akan dadakan. Yang lebih kupikirkan bagaimana caranya mendapatkan seluruh bahan bahan untuk sebuah. Rujak.
                Kususuri tangga sembari terus berfikir. Mendapat mangga, petis, dan buah buahan lain dengan harga murah. Terjangkau oleh kantongku yang sudah kosong melompong. Kulihat lorong sekolah sudah sepi hanya di isi gemericik air keran rusak yang menetes, setetes demi setetes. Dan dendangan daun yang menari bersama angin. Sebentar lagi malam, pikirku.
                Semakin larut aku tenggelam dalam ranah imajinasi. Tak sadar. Saat itu aku tak sadar kalau ada orang yang memerhatikanku, tak sadar kalau ada orang yang peduli padaku. Lebih tak sadar lagi kalau ada yang mendengar pecakapanku.
                Saat itu tuhan menulis takdir yang buruk menurutku.
                “he..cicak.” teriak seorang gadis dari belakangku. Dia mengikat sepatunya. Tersenyum padaku. Lalu kembali memanggilku “mau pulang cicak?”
                Sontak  aku terkejut “apa tokek, dasae! Sana pulang, udah mau malam kok masih di sekolah.” Sahutku tak mau kalah.
                Di situlah tuhan menulis takdir terburukku. Dan disitulah tuhan melukiskan hujan yang akan datang padaku, pelangi juga langit cerahnya suatu hari nanti datang padaku. Mungkin. Tapi aku tak tahu. Ini hanya asumsi laki laki yang tak mengerti. Siapa itu perempuan
                Dan disitulah aku belajar sesuatu. Pertemuan denganmu

You Might Also Like

0 Comments