Dia
adalah albung usangmu, yang menyimpan
coret-coret
sajak kau lahirkan
Bahkan
pena-penamu yang ditangguhkan
diantara
pensil, penghapus, serat kertas yang berserakan
Didalamnya
masih mengingat siapa lampu neon
yang
temani kau saat merasa sendirian
kamu
adalah anak album usang di depan
Jangan
kaubuang jangan kau lupakan
Karna
dia saksi tangisan
kesenangan,
dan kekelaman
Segala
yang pernah kau rasakan meski usang datangi dan sematkan
diantara-kesibukan-kesibukan
yang buatmu gelagapan
Bagai
anak kecil yang main maling-malingan
Bingung
cari tempat sesemunyian
Karena
dia satu-satunya yang punya kesaksian.
Aku buta aksara,
pun wicara
Namun,penaku
berkata tidak berkhayal sahaja
Ciptakan irama
indah ungkapan jiwa
Dari seorang
pujangga pemula
Yang ingin
tnamankan sastra
Antara jiwa dan
selipan persendian
Masihlah bercela
sajak irama ini
Bahkan majasnya
misterius tak pasti
Namun, agaknya
kunikmati rasa pahit hati
Tiap huruf yang
membawa makna mimpi
Menekurku
menghadap bumi memaknai puisi
Yang bebas lepas
tak dikebiri
Ah,……bersandar
aku dalam Satu
Dalam dunia
hampa bebas perjalananku
Dalam gelora
semangat mudaku
Daam kessumat
jantung berdetak waktu
Ingin ku
berteriak girang meski otakku semu
Ah,……beginilah
syair kenikmatan pemula
Seorang pujangga
yang buta aksara
Mencoba tuk
angkat bicara,
Aku buta aksara,
nan wicara
Aku manusia lumpur kotoran
Basuh tubuhku tak usah di pertanyakan
Pagi petang ialah lumpur di siramkan
Nikmat rasa hingga datang masa ingin kulupakan
Mencoba kata baru ialah “membersihkan”
Kini masihlah sama jika di katakan
Meski terlihat namun di samar samarkan
Perang batin terus bersahut berkecambukan
Mencari makna pembaharuan
Agar tercipta dalam khidmat kesucian
Menengadah harap masa ditangguhkan
Harap cemas karna nafsu datang sesergapan
Kini lumpur membayang dalam otak pikiran,
Hangat nikmat sensasi elok gemerlapan
Hati mati berbujur kaku sasaran emosi terluapkan,
Hikayat berkicau tak bernafas menyebutkan
Meski sedikit namun sudah tersisihkan
Bujuk rayu dari para iblis kesesatan
Ingin ku bunuh rasa yang terselipkan
Antara aliran darah yang memprihatinkan
Tak gentar meski taruhannya jantungan
Ku pertaruhkan segala tuk sebuah perubahan
Hingga habis tak tersisa rasa dan bau lumpur juga
kotoran
Kemarin peluhku jatuh bersama asa yang runtuh
Mataku mengerjap-ngerjap siapa yang salah?
Aku atau dia kamu atau…
Ah, sudahlah lupakan. Penaku memang nakal
Sempat berceramah layaknya ustaz.
Sempat mengomel bak ibu-ibu tersandung motornya.
Ganas, geragas.
Kemarin
temanku mengeluh dengan airmata dan peluh
katanya
sakit sudah jadi makanan
nelongso
tiap hari jadi tetegukan
“saben
dhino, kertasku full, jamku sumpek, lesu, ghak isok ngopi.”
Begitu
katanya.
Pernah ditanya kami perihal sitipi necis
yang sangat apik untuk kehidupan
“enak satu berdua? Berat tidak diangkat?”
Ya, gak enak, Jelas Berat!
Karna
gempuran disini berbeda dengan disana
saat
disana digempur senapan api mereka punya senapan api
saat
disana digempur panah dan tombak mereka punya tameng yang tertata rapi
tapi
kami, dipaksa menamengi diri dari muntahan senapan api dengan kulit sawo matang
kami.
Khas
Indonesia banget, blenger menjadi jadi
Sedetik, semenit, sejam
Dua detik, dua menit, dua jam
Tiga detik, tigak menit, tiga jam
Empat detik, empat menit, empat jam
Menjelma tahun-tahun kedepan
Kami harap anda pengertian
Adalah lembah yang membentang diantara pulau dan pulau
Bercerita padaku, suatu dari dikemukakannya
Teluk yang tertawa, menatap samudar yang saling tatap muka
Saling menggapai tapi Cuma dapat udara
Kemudian ada pula lereng di kaki gunung arjuna
Yang sedih melihat pohon cemara dan pohon mangga
Tak bertegur sapa, padalah mereka satu tanah di atas jawa
Satu pencipta
Ada pula nadi yang bercerita
Tentang jantung yang memompa udara
Tapi tak pernah berlama lama dengannya
Cukup sebentar, karna masa terburu buru, diganti
karbondioksida
Zat yang berbeda, aku diam mendengarkan duduk bersila
Dengan telinga yang sedari tali pasang kuda kuda
Ingin mendengar kisah selanjutnya. Siapa dia
Dan apa yang dia cerita