Harap Cemas Jangan Bertampik



Kemarin peluhku jatuh bersama asa yang runtuh
Mataku mengerjap-ngerjap siapa yang salah?
Aku atau dia kamu atau…
Ah, sudahlah lupakan. Penaku memang nakal
Sempat berceramah layaknya ustaz.
Sempat mengomel bak ibu-ibu tersandung motornya. Ganas, geragas.
            Kemarin temanku mengeluh dengan airmata dan peluh
            katanya sakit sudah jadi makanan
            nelongso tiap hari jadi tetegukan
            “saben dhino, kertasku full, jamku sumpek, lesu, ghak isok ngopi.”
            Begitu katanya.
Pernah ditanya kami perihal sitipi necis
yang sangat apik untuk kehidupan
“enak satu berdua? Berat tidak diangkat?”
Ya, gak enak, Jelas Berat!
            Karna gempuran disini berbeda dengan disana
            saat disana digempur senapan api mereka punya senapan api
            saat disana digempur panah dan tombak mereka punya tameng yang tertata rapi
            tapi kami, dipaksa menamengi diri dari muntahan senapan api dengan kulit sawo matang   kami.
            Khas Indonesia banget, blenger menjadi jadi
Sedetik, semenit, sejam
Dua detik, dua menit, dua jam
Tiga detik, tigak menit, tiga jam
Empat detik, empat menit, empat jam
Menjelma tahun-tahun kedepan
Kami harap anda pengertian

You Might Also Like

0 Comments