”coy, ayo
kamu mau kemana sekarang? ” sahut kawan yang duduk di kursi belakang.
“nah itu aku
juga gatau mau kemana.” Jawabku sekenanya.
Sedari tadi
kami berdebat di dalam mobil ayla milik slah satu kawanku yang terbilang kaya
raya. Beberapa menit lalu kami memutuskan untuk keluar rumah dengan gaya gayaa
dan berharp menemukan apa yang kami cari. Sudah mantapp betul gaya kami dengan pakaian
dan style masing masing. Dan diantara
kami hanay akulah yang paling sederhana gayanya.
Kopiah di
kepala, sarung menjadi bawahan dan baju taqqwa dengan merek tak terkenal
sebagia penutup bagian atas. Ini memang menadi styleku sejak lama. Dan teman
temanku taka da yang prote dengan hal ini. Aku orang Madura. Ya orang Madura yang
itu. yang selalu bertegkar dalam menyelasikan masalah yang berangkat dari harga
diri yang diinjak injak. Terkadang orang salah mengartikan bentuk pertengakaran
yang dilakukan oleh orang Madura. Tapi tak apalah msuka suka mereka ingin
berkata apa asalkn tidak menejlek jelakkan aku yang sedang diam dan tidak mencari
msalah ini aku sudah senang.
Kami berteigasedari
tadi berkeliling di kota bangkalan. Dengan jaur. Alun alun, pecinan, stadion,
burneh dan kembali lagi. Seterusnya seperti itu dengan kecepatan tetap di 30km/
jam. Tak ada yang khawatir soal bensin dan hal lainnya karena suddah ditanggung
kawnku yang memiliki mobil. Kami hanya tinggal minta dantarkan kemana dan voila
sampaiklah ami di tempat tujuan. Namun sayang ssejuta sayang bukan lagi seribu
karena memang terlalu banyak sayang diungkapkan di dunia sehingga dunia dan
mobil kami serasa semakin sempit dan pengap. Kami tiddak tahu arah tujuan. Sedari
tadi kami berdebat tiada akhir diawali dari si mamad yang protes dengan gaya
berpakaian haris yang terlalu ngejreng dengan baju erah dan celanna kuning
khasnya.
“cong, kamu
jeh bajunya kok norak banget sih kayak orang desa. Kan malu nanti kita kalau
berhenti di kafe janji jiwa diliatin orang di sangka orang dsa gegara kamu.”
“biarin bodo
amat yang penting ini baju bagus kok daripada kmu tiu baju apa? di egois aja
nggak ada masih gay, udah sana pulang gak usah ikut kalau mau ngejek ngejek
gajelas. Yang orang desa itu kmau cong.”
“lah kamu
yang gatau milih warna baju dan style ini sok sok an jadi bijaksana maksudmu
apa?”
“eh. Ndak usah
naik nada gitu bos, sekiranya mau diselesaikan ayok. Lapangan alun alun di
sebelah masih luas tuh, ijo juga. Mau di buat jadi merah?”
“eiz…nantang
ay….”
“”ssttt….apa
kok rame aja daritadi, nagapain rebut riubut gitu dariapad rebut mendin gmikir
kita mau kemana?”kataku merelai percakapan tiada akhir yang mereka buat.
“ini lo man,
dia drotadi nyolot aja sok bijaksana sok berartabatlah dan sok kekotaan.”
“boy boy,
kmau itu yang salah jaan jalan tpi pakai baju kok ya kayak gitu malu maluin.”
“bah, lagi,
udh udh gak usah diributin daripada mikirin diapa yang bikin malu maluin,
justru egiatan kalian da pertengkaran kalian ini yang paling bikin malu. Kemana
bukti persahabatan kita kalau kita tidak saling menghargai gini mau marah
marahan terus? Mau mangkel magkelan terus? Udah ah gak usah gabut ayo kita
langsung berkangat ke janji jiwa aja do, biar mereka gak gabut, kita tunjukin
kopi terenak di bangkalan. Kita buat mereka bungkam do.”
Aldo yang
menjadi sopir kami mengiyakan dan langsung tancap gas. Memnag terkadang gabut
membuat kita lupa dengans isap dan harus apa kita hari ini. Kekurnagan kita apa
dan harus bagaimana nantinya. Semua itu ada biang keladinya.
Bnarbenar halyang paing menyusahkan adalah kegabutan yang
tak ounya wadah untuk dituangkan. Semua hal yang berbau gabut kami tinggalkan
tanpa bekas di daerahs ekitar kota di tengah tengah jalan menuju alun alun
kota.
0 Comments