Semilir angin memelintir rasa kalap di hati
menyapa dengan sentuhan lembut, berpetak umpet di antara rambut rambutku,
riangnya ku rasakan, bisiknya ku dengarkan saja, seperti anak kecil. Pikirku
begitu saja.
Angin selalu bebas bergerak sana sini seperti seorang
anak kecil dan ia pelipur lara pelebur duka bagi siapapun yang bertemu
dengannya namun lain halnya denganku yang hanya bisa diam dan memandang
cakrawala kosong. Menikmati rimba beton dan riuh detakan zaman yang mengedepan.
Mencoba menikmati tiap inci keindahan ciptaan tuhan, dan menyesali tiap
perbuatan yang telah usai dilakukan. Jika berandai dan bisa menjadi nyata aku
ingin menjadi sekuntum mawar yang tak kan lekang dimakan masa ketakjupan orang
kepadanya, meski berduri tetap di pegang di elus bahkan dijadikan makna CINTA.
Wajahku tampan rupawan, hartaku bergelimpangan,
pakainku mewah dan elegan. Lalu, apa yang kurang. Aku menghela nafas membayang
kembali.
***
Senin,
Hari paling menjengkelkan di antara hari hari
yang lain. Awal dari segala awal hari pun awal dari awal minggu yang harus
kujalani membentuk kisah baru di antara lembar kusam sejarah kelam. Sedari
surya di panggil oleh si ayam jago hingga tergelincir ia dalam rengkuhan laut
biru nan eksotis di ufuk barat. Terus begitu masa berputar putar.
Aku menatap semburat senja hari itu dengan mata
tertuju pada detik detik senja menampakkan senyum oranye bercampur datangnya si
dewi malam. Kekasihku.
“hai” sapaku dahulu.
Tak ada jawaban dari sng dewi malam ini dia
hanya menebar kecantikannya dengan sempurna, mendampingi para bintang.
“meskipun aku tau kau tak akan menjawab, tapi
aku ingin bercerita padamu. Aku masih saja tak punya pasangan”curhatku memelas.
Lagi lagi tak ada jaawaban. Tapi ada perassaan
lega d hati seakan sepatah kaliamt yang mengoyak menyeruak keluar dari dalam
mulutku ikut menarik keluar duri kegelisahan yang berkelit memluk jantungku.
Aku duduk memandangi sang dewi mengaharp ia
membalas curhatanku membrikan sedikit saran entah dari manapun itu aku ingin
dia menjawab. Aku hanya terus melamum memandangnya. Angin malam menyapaku
bercerita kalau ia merasa kasihan padaku. Sayup pepohonan mengirama malam yang
sunyi hingga tak terasa sunyi lagi bahkan ku kira aku sedang bersama
segerombolan orang. Begitulah angina begitu baik padaku. Di tengah gelap malam
yang menyelimut serta dansa paepohonan yang tak mau berhenti.
“aduhhhh”
Suara seorang wanita dari dalam hutan. Seketika
angina berhenti bermain main, pepohonan menghentikan dansanya. Aku merasakan
bagaimana angina gugup malam itu. Malam terasa semakin gelap sang dewi terlihat
agak meredup, jantungku terpompa, selangkah demi selangkah aku mendekat meraba
semak di depanku,…membukanya.
“srashhhhh” semak semak itu
terhempas,menyisakan pandangan yang lenggang lurus kedepan.
Aku terdiam jantungku semakin memompa
adrenalin. Mataku hendak keluar dari tempatnya betapa terkejutnya aku mendapati
seorang gadis berusia 20 tahunan sama sepertiku terkapar tak sadrkan diri di
depanku.
Angin mulai berbisik nakal padaku.sang dewi pun
seperti menyindirku cahayanya melompat menerangi wajah si gadis. Kini nampak
jelas wajahnya polos nan cantik seperti putri solo dengan pakaian lengan
panjang, kerudung, dan rok serba biru muda aku tau gaya penampilan itu. Dia
muslimah.
Ahh……ketika itulah aku merass kalau sang dewi agak
terlihat riang. Seluruh isi hutan menyindirku. Tanpa kupedlikan mereka ku
bopong si gadis menuju rumahku.
Lima menit kemudian aku sampai dan kubaringkan
ia diatas sofa rang tamu dalam rumahku. Aku tak tahu apakah ini sopan atau
tidak tapi. Tunggu kenapa ada bau anyir……
Aku menelusur sekitar, kudapati kaki gadis ini
terluka. Segera aku berlari menyambar kotak P3K di kamarku. Dengan sigap
kubersihkan dan kubalut lukanya agar tak terjadi pendarahan. Betapa bodohnya
kau tak menyadari kalau seorang gadis yang tersesat di hutan tiba tiba pingsan
itu pasti karna ada penyebabnya. Ku beri ia selimut agar tetap terjaga
auratnya.
Sekali lagi hatiku membatin kalau tuhan itu hebat bisa menciptakan manusia secantik
ini dan tuhan itu baik mempertemukan aku si fakir cinta dengannya. Aku
memandanginya terus seperti aku memandangi senja. Semakin lama rasa kantuk
memakan kesadaranku dan akhirnya kalapoleh waktu.
“ahhhhhhh” teriakan dari seorang gadis
membangunkanku dari tidur pulasku.
Sontak melompatlah aku memperagakan sedikit
jurus penack yang kupelajri semasa SMA dulu. Mataku menelusur sekitar, perlahan
tapi pasti mataku mencoba mengembalikan fokus seperti sebuah kamera. Dapat!
Ternyata itu asalnya dari gadis yang ku temukan
di hutan beberpa jam yang lalu. Tunggu berarti ini bukan mimpi,batinku.
Dia duduk di sofa dengan posisi tangan memeluk
selimut dan menutup seluruh tubuhnya plus seperti di dalam film ketika seorang
wanita baru tersadar dari pingsan ia akan berekspresi seperti hendak di rampok
kehormatannya.
“mbak kamu sekarang milikku jadikamu harus
nurut semua ucapanku” ujarku, berakting seperti peran antagonis.
“plakkkk” tamparan telak di pipi kananku.
Dia berlari kea rah pintu rumahku setelah
menampar dengan sekuat tenaga. Nampaknya kau berlebihan. Ketakutan nampak
melukis di wajahnya yang cantik, aku tak tega melihatnya. Aku mendatanginya.
Kemudian bersujud.
“maaf mbak saya bercanda tadi dan mbak tadi
saya temukan di hutan pingsan pula dan untuk kehormatan mbak saya berani sumpah
gak ngapa ngapain” jelasku, sambil perlahan menunjukkan wajah memelas dan jari
berbentuk ‘V’
Bahunya yang sedari tadi menegang seperti di
gantung ke atas mulai melemas, wajahnya yang cantik yang sedari tadi di penuhi
oleh benang kusut kecemasan kini mulai terlihat lurus kembali, nafasnya yang
terengah engah ia atur kembali.
“plakkkk” tanganya bergerak secepat kilat ke
pipi kananku kemudian diabungnya wajahnya.
Mataku melotot tak percaya sekali lagi aku di
tampar. Apa salahku.
Aku terbangun dari tidur adzan subuh memanggil
manggil. Ternyata itu ayahku
0 Comments