Suara desingan mesin pembuat kopi, lagulagu indie, hujan di
sore hari, obroaln dan tawa di tengah tengah ruangan yang hampir kedap suara
juga kepulan asap dari berbagai meja di dengan keramaian masing asing.
Begitulha suasana yang tepat yang musti kugambarkan dalm puisiku nantinya.
Sebuah bolpoin, dan seonggok kertas masih saja mengejekku dari atas meja yang
masih kosong menunggu pesanan diantarkan. Otak yang sedari tadi melompong
melongo tak punya alasan menulis pun ikut andil membutaku bingung dan semakin
kerdil di dunia yang nampaknya biasa biasa saja sore itu.
Riuh hujan dan obrolan para orang gila di luar memekik keras
di antara kesnuyian yang sengaja uraih di tengh tengah keramaian. Mungkin sudah menajdi jalanku untuk diam dan
tak bia menghasilkan apa apa, tapi aku tak mau menyerah begtiu saja. semua itu
pasti ada hasilnya aku ahrus berusaha begitulah setidaknya hatiku berbunyi. Di
kafe ini banyak sekali inspirasi yang bisa dijadikan resep spesila sebuah
cerita puisi di atas kertas.
Matakuyang sedari terpaut deengan baut di pinnggir pinggir
meja kini berlih pandang menyusur sekitar. Berharp menemkan bintang jatuh di
kepalaku. Dan setelah beberpa menit aku menelusur sekitar. Mememjam mejamkan
mata yangkata orang sudah terlihat terpejam ini mencari cari si tupai lompat
yang nantinya akan menjadi isnpirasiku hasilnya nihil. Macam mencari cacing
laut di tengah tengah badai besar. Atau mencari ikan mujaer di tengah laut
sepertinya.
Harap yang kuharapkan tak juga datang tanganku bergerak
mengebrak mej.
“aduh..!” seru seornag pelayan perempuan yang ternyata
berdiri tepat di sampingku.
Aku menyengir”eh maaf maaf mbak saya nggak sengaja.”
Pelayan itu meletakkan kopi pesananku dengan senyum tanpa
berkata apa apa. lalu dia pergi.ya pergi tanpa kata kata apapun. Mataku yang
sedari bimbang musti mencari apa akhirnya menemukan tujuan. Dibuntutinya si
pelayan perempuan yang ternyata juga seornag barista di kafe ini. Entah aku
baru sadar atau bagiamana sepertinya hanya dia yang bekerja di sini. Atau yang
lain sedang keluar.
Tanganku nakal bermain dengan bolpoin menggaris garis tak
jelas di sana. Mataku tak henti hentinya melukis setiap gurat yang diciptakan
di tengah tengah wajah si pelayan tadi. Kopiku yang baru datng kalah esonanya
dengan palyang yang mengantarkan dia. Ibarat sebuah cinta mungkin aku jatuh
cinta pada seornag yang tak sengaja menemukan buku puisiku yang hilang di
tenagh jalan dan memeberikannya padaku bersma dengan kopi yang diseduhnya
sendiri.
Angin mulai berhenti bertiup, hujan uai tersa sediktit reda.
Sekarang pukul 10 malam. Semua pengunjung muali mebereskan barang barang,
menaikkan pantatnya. Hendak embawa serta kelegaan di antara langkahnya. Dan ini
menjad kopiku yang ke 3 belum lagi aku menyelesaikan puisiku yang terakhir.
“mas, ini kopinya.” Lagi lagi dia tibba tiba berada
disampingku.
“oh iya mbak makasih.”
Dia hanya membalas dengans enyum dan pergi. Semua berlalu
begitu saja. puisiku sudah genap menajdi 10 hari ini, aku bernajak dari tempat
dudukku menoleh ke belakang berharap bisa melihat wajah itu terakhir kalinya
sebelum aku pergi keluar dari kafenya. Namun wajah itu tidaka da di sana aku
bernagkat pergi meninggalkan 3 gelas cangkir kosong di mejaku bersama kenangn
dan bintang jatuhku di sana semoga aku besok betemu dengannya.
Baru selangkah keluar. Kakiku tersandung dan aku jatuh
bedebam ke atas sebuah genang air.
Aku terbangun jatuh dari kasur dengan celana basah oleh air .
Mataku memburu jam dinding ini pukul 10 malam. Dan aku berada ddi kamarku
dengan ceelana basah kuyup. Kucium bekas ir itu. untunglah itu tidak berbau.
Lalu dari amna dan ternyata di atas epalaku menetes air. Itu dari genting yang
bocor tepat di atas kasurku. Ini baru saja selesai.
0 Comments