Tanga itu melesat
cepat di atas tombol tombol hitam yang muali karat dengan dosa. Enyambut beberap
abtuk dari mahasiswa dengan wajhanya yang
tersu terlihat riang gembira. Padahal baru kemarin aku lihat matanya jernih itu
redup di makan usia. Tapi tida hari inimwajahnya sumringahnya. Serta kelakuannya
semuany anmapka serpeti remja.
Bahkan kami yang baru saja beurmur belasn kalah olehy yang
begotu semangat dengan segala sesuaau yang ada. dia mengajarkan kami denga
tulus dan ikhlas.
Sampia sampia kawanku yang permepuan naksir denganny apdahal
dia sudah berumur sangat tua.
“dia sangata setia” ucap salah satu teman perempuanku.
Banyak hal yangdi kagumi darinya, banyak hal yang di incar
drinya, banyak hal yang terlalu baiik darinya. Banyak hal yang msuti dipelajari
darinya semua darinya dan untuknya smeua hal yang ebrhubungan dengnnya
sangatlah impresif sangaalah heba dan sangatalah menggebu gebu. Hal hal yang
diisam idamkan oleh mahasiswa lain datang darinya.
Gelagatnya yang sellau mencuri perhatian membawa benci di
antara beberpa mahasiswa. Desass desus kudengar ada beberpa percobaan pembunhan
di kampus. Beberpa mahasiswa mengacungkan snjatanya di baliks enyum senyum
manisnnya ini karna dia yang sellau mencur curi perhatian. Sampai suatu ketika
aku di lorong bersam denganhya. Saling betukar informasi perihal tugas yang
ahrus dikumpulkan esok ahri.
Seornag mahasiswa berlari menusukkan pisau tepat diantara
dadanya dari arah depan. Darah mengucur deras aku yang tak bisa apa apa hanya
berteriak minta tologn berharapada yangd atang. Teleponku berdering. Semuanya
nampak ksoong. Tak ada yang terlewat.
Suara ambulan. Isak tangis. Hingga suara infurs dan beberpa
alat medis yang tak kutahu namnya berbunyi. Kecuali satu. Aku lupa dengan wajah
sii pembunuh. Dia dirawat di rumah sakit dengan beberpa selag menempel di
tubuhnya sedang di samping samping kasurnya banyak aprsel parsel pemberina
orang dia tak tahu asal dia tahumungkin parsel itu sudah dikembalikan kepad si
pengirim.
Semua begiut keajm dia koma selama lebih dari 6 bulan lamnya.
Satu semester kami tak bertemu dengannya. Satu semester kami tak menegnyam
ilmunya satu semester kami tak bercanda tawa dengnnay. Dan sekarang dia sudah
sehat sentosa
Semuahal yang 6 bulan kamerin kami rasakn sedihnya kini
hilang dimakan waktu. Kamu beranjak dari tempat duduk dan menyalami dia.
Keesokan ahrinya di a ditemukan telah tiada dengna senyum
engukir di wajahnya. Itulah cerita soal orang yang paling kukagumi.
0 Comments