Ini Tentang Kita



“pa…..papa….” seorang anak kecil berlari keluar dari mulut pintu, matanya bulat berbinar binar.
Aku menoleh sedikit lesu. Seketika langkahnya berhenti. Kaget. “papa kenapa?” matanya bulat sempurna sebualt purnama di angkasa. Bertanya padauk.
Cepat cepat kubuang wajah seorang pencunang dari wajahku ini. Melempar senyum. Memanggilnya untuk mendekat padaku “enggak kok papa enggak apa apa, sini. Riris nagapain masuk ke kantor ayah?”
Senyumnya kemudian muncul kembali, kaki dan tangannya di silangkan. Kepalanya mendunduk “hehe…riris mau jajan jadi riris minta uang pa.” sambil melempar wajahimutnya. Amboiii, sungguh imut wajah anakku ini tak tega aku jika sampai wajahnya itu ternoda oleh kelabu apalagi sampai terlihat lessu dan sendu.
“ini. Dua ribu cukup kan?” kuberikan lembar uang dua ribuan. Ia mengangguk mantap mengambil uang itu dari tangangku, tangan mungilnya meraih dengan halus lembut “cukup kok pa. riris kan cuman mau jajan di warung bu mastur.” Aku hanya bisa melempar senyum. Mengangguk. Sejurus kemudian riris pergi. Balik kanan. Berlari hingga di telan pintu.
Mataku kembali menjurus pada layar laptop dan tumpukan kertas yang berisi coret coretan angka tak jelas. Entah berpa lama aku mengotak atik angka di atas lembaran itu dengan pena. Entah berpa lembar yang ku remas, dan kubuang. Hingga tempat sampah sudah tak sanggup lagi memakan kertas kertasku yang buruk rupa itu. kelam. Sunyi. Bingung.
Tok tok tok
“mas. Aku masuk ya?” suara lembut itu mematahkan lamunan ruang dimensiku. Sontak ku tutupi kertas kertas di mejaku, karna itu istriku.
Istriku kembali memanggil “mas, kamu tidur?” dengan nada tak sabaran. Ku jawab dengan suara sedikit kencang untuk menyakinkan aku tidak apa apa ”enggak sayang, masuk aja enggak apa apa.” Istriku muncul dari mulut pintu matanya menyelidik sekitar “kok lampunya di redupin sih sayang?”
“iya biar aku bisa fokus sama kerjaanku sayang.”
“ooo,. Lagi buat soal ya?” pertayaan itu menusuk tepat pada jantungku. Rasa bersalah kemudian datang menggerayangi seluruh tubuh. hatiku seperti kelapa yang diperas santannya. Sakit. Mulutku aku. Lidahku kelu.
“mas, kamu kenapa? Kok tiba tiba pucet gitu?”
Sekali lagi lamunanku buyar di tampar oleh perntanyaan istriku. Aku menggeleng. Mendakan aku baik baik saja.
“beneran ya?” wajahnya nampak khawatir dengan keadaanku. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
“ya udah kalo gitu aku cuman mau mastiin kalo kamu enggak apa apa mas.” Istriku balik kanan, pergi meninggalkanku sendiri. Seujrus aku kembali pada kertas kertasku. Istriku menghentikn langkahnya “mas, tidurnya jangan malem malem yah. Aku gak mau tidur sendiri.” Kemudian tersenyum manja padaku. Aku tahu maksudnya, tapi aku tak tega ingin mengatakan Sesutu aku takut masalahku ini akan menghapus senyum dari wajahnya.
Aku mengangguk. Istriku melanjutkan langkahnya. Kali ini ku ikuti punggung istriku hingga benar benar di telan sepi. Hingga suara langkahnya tak lagi terdengar di gendang telingaku. Hingga gelap kembali menggerayangiku. Hingga dingin kembali menyergap ragaku.
Mataku kembali menusuk tajam pada masalah yang tertulis di sana.
Hutang.
            Begitulah kata paling jelas yang tertulis. Besar. Dikelilingi angka angka yang sudah amburadul.
            Aku masih ingat kalau mas agung menagih hutangku. Dan aku tidak punya uang sepeserpun. Bahkan gajiku belum turun selama tiga bulan. Hidupku kini penuh lilitan hutang piutang. Takut akan perceraian. Takut akan segalanya. Suram.
            Sekali lagi hatiku bergemeratak bbagaimana nantinya jika kuceritakan hal ini pada istriku? Apakah dia akan tetpa bersamaku. Sedang dari desas desus yang ku dengar dari mulut tetangga banyak orang yang berceerai karna hutang piutang. Besok juga hari tekahir untuk membayar uang kontrakan bulan ini.
            “papa!” riris berteriak sambil berlari ke arahku. Melompat. Duduk di pangkuanku.
            Pikiranku kembali meompat ke masa lalu, saat mertuau memaki maki. Masih lekat ucapannya “kamunitu cuman guru honorer, masih untung anak saya yang maksa mau nikah sama kamu. Coba kalo semisal anak saya gak maksa, gak mungkin mau saya nikahkan anak saya  dengan kamu. Toh nanti anak saya jadi sengsara. Kalo sampai anak saya sengsara pkoknya kamu harus ceraikan anak saya.”
            “pa? Papa kok gakjawab riris kan nanyak kapan papa mau dogeng untuk riris?” matanya menjurus padaku memelas membuatku tak tega.
            “eh..maaf ya  papa tadi gak denger riris ngomong apa? Tadi riris nanyak apa?”
            “ih papa kok gak dengerin riris? Riris kan minta di dongeng sebelum tidur sekarang uah waktunya tidur papa riris ngantuk.” Jawabnya sedikit manja. Menguap.
            Kuturunkan riris dari pangkuanku. Kami berjalan menuju kamar riris. Menyurusur lorong. Tapi langkahku tersendat saat melwati kamarku disana istriku sendiri. belum tidur entah apa yang dikerjakan.
            “ayo pa riris ngantuk” anakku memegang tanganku mengajak untuk bersegera.
            “eh..iya iya  ayo”
            Sesampai di  kamar riris.  Kueritakan kisah sag kancil yang cerdik. Matanya megerjap ngerjap “pa?...papa sayang sama mama enggak? Karna riris tau mama sayang papa, tadi riris lihat mama nangis di dapur” sontak aku seperti dihujani beribu belati. Memang dulu kami pernah berjanji masalh apapun harus di ceritakan entah sesulit apapun itu. mungkin dia merasakan keganjilan yang menyeruak dari tubuhku.
            Tanpa piker Panjang kakiku melangkah begitu saja, menysur Lorong. Memberanikan diri. Mengetuk pintu. Mengintip. Mencoba memastikan “sayang, kamu enggak apa apa?”
            Istriku menoleh perlahan dengan mata sedikit sayu. Segera kulontarkan pertanyaan.
            “sayang kamu enggak apa apa kan?”
            “iya aku enggak apa apa tapi aku tahu kamu pasti ada apa apa kan?”
            Tunggu kenapa dia tahu aku sedang dirundung masalah bukannya aku tak menceritakan padanya sama sekali.
            Aku masuk perlahan. Duduk di samping istriku.
“iya sayang. Aku  lagi ada masalah.”
“kalo gitu kamu mau berbagi kesedihan itu sama aku?” matanya menyorot padaku.
“jadi…” mulutku tercekat “sebenarnya aku sedang terlillit hutang dan bingung bagaimana cara membayarnya sedangkan kau takut ketika nanti cerita ke kamu. Kamu minta cerai.”
Istriku tersenyum. Mengusap wajahku.
“mas, aku kan udah janji bakalan sehidup semati sama kamu jadi aku enggak mungkin mintak cerai hanya karna masalh rumah tangga kayak begini. Aku juga sudah memaklumi kondisi keluarga kita karna memang resiko pekerjaanmu sebagai gru honorer. Tapi aku bangga bisa menikahi seorang guru.”
Kata katanya menelusuk masuk begitu saja dalam sukmaku. Memeluk hangat hati yang sempat bimbang. Air mataku mendera. Kupeluk erat erat istriku dengan sepenuh hati.
TAMAT



You Might Also Like

0 Comments