bElum sempurna kaki langit di hias bias cahaya. Aku sudah
memutuskan untuk hadir di sana saja dengan segenap tenaga yang kupunya. Belum sampai
diriku menghujat bintang di tengah badai menggelora. Dia datang sebagai penyempurna
bagi lautku.
Seornag gadis kecil dengan rambut kurang terawatt dan sebuah
kota berisi donat doat dengna misis di atasnya melongo ke arahku. Ini masih
pagi.kenapa anaka berumur sekitar 4tahunan baerada d pinggir lampu merah?
Bukannya di harus sekolah. sebeneranya aku sudah biaa
melihata naka nak berjuana di tenag tengah kota tapi tidak dihari yang sepagi
ini. Ini masih terlalu pagi untuk berjualan. Masih terlalu dini untuk sekadar
menacri nafakah abgi anak sekecil itu.
Lampu menjadi hijau aku memacu sepia motorku. Semua berlelu
dalm perjalanan aku masih memabyang bayang hal yang musti kulakukan sepulang
sekolah nanti.
Dan sinilah aku duduk di bangku paling belakang dengan tanagn
di atas mejad dan kpala di atas segalanya. Salim membangnkanku. Cong suddah
pulang ayok .
Aku mengiyakan menarik pantatku yang lekat dengan kursi kayu
sekolah. meluncur kea rah tempat parker bergegas menancap gas sepeda motor
bututku.
“cong kamu langsung pulang?”
“iya kenapa?”
“ndak bareng sama si dia?”
“dia siapa lagi itu? ada ada aja udah kah aku mau pulang.”
Di perjalanan. Aku tetap memikirkan apa yang ahrus kulakukan
jika bertemu dengana nak yang tadi.
Dan voila aku bertemu lagi dengan anak itu dengan jajananan
di dalm kotaknya yang amsih saja penuh di sana. Aku bermaksud membeli 2 sampai
3 buah donat untuk kubawa pulang saat aku mengambil uang dari saku bajuku.
Seorang jambret mengambil uang yangs udahkupegang. Lantas aku
berlari menegjarnya. Si anak kecil ikut berlari menjah dariku. Badannya sehat
dan donatnya ditinggal pergi. Uang yang diambil pun tidak sedikit itu uang jajan bulananku jumlahnya 300
ribu.
Kakiku bergerak cepat melintasi jalnana kota. Mengerjar sang
jambret yang ternyata memang bersekongkol dengana nak kecil tadi.
Kami saling mengejar seeperti dalma fil film action mission
imposible. Melewati pasar, dan lorong lorng sempit. Sampai di suatu ketika
pencuri iru sudah ngos ngosan d pinggir jalan aku menyebarang dengan kencang
tak peduli sekitar
Tba tiba dari arah kananku sebuah sepeda motor melayangbebas
menabrak pipiku dan semua gelap.
Mataku mengercap ini di kelas dan disampingku bu ruby berdiri
dengan marah. Anak anak tertawa milhat aku bangun dengan linglung. Nampakny aku
baru saja di tempeleng.
0 Comments