Di
suatu pagi yang cerah di rumah yang indah. Sungguh suasana yang sangat cerah
sepertinya. Di sana duduk seorang anak di beranda rumahnya. Diam menghadap kearah matahari terbenam. Entah menunggu apa. angin menari-nari. Si anak terus
menunggu tanpa henti. Duduk bersila di beranda rumahnya. Tidak ada kopi seperti
orang dewasa, hanya sebungkus kelereng di samping anak itu.
Pohon
mangga di depan rumahnya meneduhkan
suasana. Tak lama sang ibu datang dari dalam rumah. Berjalan kearah si
anak. Berhenti sebentar dan menggeleng geleng. Melihat sedih si anak. Kemudian
berjalan lagi dan mengusap kepala si anak.
Anaknya
menoleh dengan mata sedikit sembab, ibunya iba. “kamu masih nunggu ayah?”
Si anak dengan polosnya mengangguk.
Anaknya baru berumur 6 tahun maklum saja jika rasa rindu dan cintanya masih
kepada ayahnya. Bukan berarti dia tidak mempunyai cinta kepada ibunya.
Anak itu kemudian berdiri. Bajunya
yang tadi basah oleh keringat sudah kering karena saking lamanya dia menunggu.
“Ibu kapan ayah pulang?”
Ibunya tersenyum, “Ayah pulang nanti
setelah maghrib, jadi adek sekarang mandi dulu biara pas ayah pulang gak nyium
bau adek yang kecut,” Ibunya tertawa. Diikuti oleh anaknya.
Si anak kemudian diam, “Beneran bu?” tanyanya
penasaran.
Ibunya mengangguk kemudian tersenyum.
Tanpa basa- basi. Si anak kemudian
berlari menuju ke kamar mandi.
“Oke bu adek mandi dulu,” katanya
kegirangan mendengar kalau ayahnya akan pulang hari ini.
Lima menit kemudian dia sudah duduk lagi di depan dengan
tubuh telanjang.
“Adek ooo adek” suara ibunya
memanggil.
Matahari sudah mulai terbenam. Si anak
tetap duduk di beranda. Sementara si ibu sedang kebingungan mencari.
“Ooo disini rupanya adek ya.” Ibunya
menemukannya.
Anak itu menoleh lagi kepada ibunya.
“Ibu, mana ayah? Adek kan uda mandi
tapi kenapa yah belum dating bu? Apa adek amsih bau?”
Ibunya tertawa kecil mendengar
pertanyaan anakya itu.
“Enggak kok adek ahrum. Coba sini ibu
cium dulu baunya ahrum atau enggak.” Sembari mendatangi si anak dan pura pura
mencium baunya.
Si anak tertawa. Merasa geli diciumi
ibunya. Suasana saat itu cerah ceria. Malam pundatang. Menyelimuti. Suara adzan
maghrib menelan suara tawa mereka.
“Adek ayo pakek baju terus shalat,
nanti kalau ayah dating terus adek belum shalat giamana?”
Lagi lagi anak itu langsung melompat
dan berlari dari tempatnya duduk. Menuju kamar tidurnya. Semenit kemudian dia
sudah keluar dari kamarnya. Lengkap menggunakan baju koko, dan kopiah berwarna
merahnya. Dia terlihat lucu. Di balut baju koko putih,sarung dengan gambar
salah satu karakter kartun dan kopiah bulat merah kesayangnnya hadiah dari
ayahnya.
Anak itu berlari riang menuju mushalla di depan rumahnya.
Tak lama
anak itu kembali masih dengan wajah riang yang tadi, duduk di beranda rumahnya.
Lagi. Menunggu.
Tatapannya
penuh harap. Ibunya kembali mencari memanggil manggil anaknya.
“Adek mana
ya? Adek?”
“Iya bu
adek ada di depan.” Anak itu akhirnya menjawab. Matanya tetap tertuju pada
pagar rumah.
Ibunya
berjalan menuju beranda.
“Adek?
Adek udah ngaji?”
Anak itu kali ini tidak menjawab. Diam. angin menyapa
malam, rembulan bersinar terang. Ibunya mengulang kembali pertanyaannya.
“Adek.
Adek udah ngaji?” semari merangkul tubuh anak itu.
Kali ini anak
itu menoleh pada ibunya. Bertanya dengan matanya yang sedari tadi tidak lelah
menatap jalan. Menatap pagar rumah.
“Adek udah
ngaji?” ualang ibunya.
Anak itu
menggeleng.
“Adek gak
mau berangkat ngaji. Ntar kalao adek berangkat nagji terus ayah pulang gimana?”
Ibunya
terdiam. Kaget. Tak berapa lama senyum tergaris di wajah ibunya.
Anak itu
sangat menyayangi ayahnya. Tak lelah menunggu. Pohon yang sedari tadi diam kini
diterpa angin malam. Mendesirkan rasa kelam. Tapi bulan tak setuju menyorotkan
sinarnnya yang kalem menyiratkan ketenangan. Bintang setuju dengan bulan
bersinar tak kalah terang tak kalah banyak.
Malam itu
harapan anak itu, semuanya. Saling menyatu. Hingga mega pun hendak untuk
mengganggu takut menakuti anak itu. Takut musnahkan harapnnya. Takut bukan
terang yang di dapat.
Malam
semakin larut.
“Adek.
Nanti kalo adek belum ngaji pas ayah dateng gimana?”
Anak itu
diam.
“Iya ya
bu. Ya udah kalo gitu adek mau ngaji dulu biar nanti pas ayah dateng adek mau
cerita banyak sama ayah.”
Anak itu
berlari lagi dengan riang menuju mushalla rumahnya.
Tak lama
handphone berdering.
Kriing.
Ibu itu bergegas mengangkat.
Ternyata
panggilan dari tepat suaminya bekerja.
“Halo.”
Sahut suara di telepon.
“Halo. Iya
dengan keluarga nasution disini. Ini siapa?”
“Iya ibu.
Saya perwakilan dari TNI-AD ingin menyampaikan kabar duka kepada ibu. Mohon
didenagrkan.”
Seketika
dunia buram dimata ibu itu. Seketika dia berlari ke masa lalu. Mengingat
anaknya yang sabar menunggu ayahnya dari kemarin.
“Suami ibu
telah gugur di medan perang sebagai seorang perwira yang baik dan tegas.
Pemakaman akan dilaksanakan besok pagi di taman makam pahlawan. Terima kasih”
Tut....tuutt....tutt..
Telepon
telah diputus. Nafas ibu itu tersengal sengal kakget mendengar kabar suaminya
yang telah gugu di medan perang.
Semuanya berkecamuk di dalam pikirannya. Anaknya. Tangisnya. Semuanya.
Tanpa
sadar setetes air mata pun tak tertahankan jatuh. Menimpa pipinya, membasahi
wajahnya. Matanya sembab. Hatinya sakit. Sakit karena telah ditinggal kestria
putihnya. Sakit karena takut anaknya bertanya dimana ayahnya.
Anak itu
kembali kini bukan dengan riang. Air matanya menderai derai. Di kucek kuceknya
matanya itu.
Ibunya
yang mendengar suara tangis anak semata wayangnya itu bergegas mengahpus air
matanya. Berlari mengahampiri anak itu.
“Adek
kenapa nangis?” tanya ibunya memaksakan senyum.
“Hiks...hiks....ibu.
adek mau nanyak, boleh?” denagn sesenggukan anak itu bertanya pada ibunya.
“Boleh,”
sembari mengusap usap kepala anaknya.
“Ibu. Ayah
gak akan pulang ya?”
Seketika
seakan ada guntur yang menyambar di dada ibunya. Jarum seakan menusuk nusuk
jantungnya. Ibunya terdiam.
“Tadi om
safii bilang sama adek kalo ayah gak akan pulang. Ayah udah mati di tembak
orang.”
Ibunya
langsung memeluk anak semata wayangya itu. Air mata mengalir dari mata ibunya.
Deras. Rembulan pun tak tahan melihatnya, dia menutup diri diantara para mega.
Bintang ikut bersembunyi diantara mega mega. Kelam pun datang.
Si anak
yang sedari tadi menunggu ayahnya. Kini tangisnya semakin menjadi. Merasa
bersalah pada ibunya. Merasa bersalah pada ayahnya. Sang anak menjerit dalam
tangisnya. Mendinginkan malam. Menghapuskan sepi. Mengundang sendu. Karna sang
ayah yang ditunggu telah tiada di medan
perang.
TAMAT
0 Comments