Pendidikan adalah Identitas



        Pendidikan adalah Identitas setiap manusia. Seperti dikemukakan oleh Comenius Bahwa pendidikan adalah proses dimana individu mengembangkan kualitasnya terhadap agama, ilmu pengetahuan dan moralnya, yang membuatnya mampu mengklaim dirinya sebagai manusia. Pemaparan ini menyimpulkan bahwa Pendidikan merupakan peroses bagi setiap individu untuk mengembangkan pengetahuannnya baik secara duniawi ataupun surgawi. Hal ini menjadi pembeda sekaligus identitas bagi manusia karena tidak ada hewan yang berpendidikan. Pendapat ini juga didukung oleh pendapat Hartoto Pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis, dan terus-menerus dalam upaya memanusiakan manusia.
            Manusia pada hakikatnya haruslah memiliki akal sesuai dengan yang dikatakan dalam Al-Quran Surah An-Nahl ayat:78 menjelaskan bahwa manusia memiliki hati atau akal. Inilah yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Jadi jika manusia tidak berpendidikan maka sama saja ia dengan hewan. Karena  Menurut Driyarkara Pendidikan disimpulkan sebagai satu usaha dalam memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke skala yang insani. Memanusiakan manusia agar lebih manusiawi begitulah menurut saya. Karena hewan menggunakan insting, dan manusia menggunakan akal untuk berfikir. Selian itu Menurut Aristoteles Pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk pengajaran. Bagi manusia akal sangatlah penting tanpa adanya akal bukan hanya seperti hewan namun juga tidak akan mengetahui seisi dunia, pun tidak bisa mengajarkannya. Bagaimana bisa mengajar sedang tak punya akal ataupun pengetahuan.
           
            Adapun pendapat dari Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Lebih lanjut beliau ( Kerja Ki Hajar Dewantara 1962:14) menjelaskan bahwa “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti ( kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya “.







You Might Also Like

0 Comments