Kita
mungkins sering merasa menderita ataupun sengsara. Seolah olah kitalah yang
paling sengsara di dunia ini tidak ada lagi. Sebenarnya ketika kita menderita
itu adlah anugerah sekaligus bermanfaat untuk kehidupan kita. Tunggu?manfaat? sengsara
kok bermanfaat? Aneh bukan? Jika kalian berkata ini unik jawabnnya tidak.
Sebetulnya kita hidup jika tidak sengsara ya sengsara begitu saja kok repot. Jadi
siapa yang merasa kalau diala orang paling sengsara, acungkan jempolmu, buka
matamu lebar lebar. Simak tulisan saya
Nah,
sekarang pernahkah kalian merasa kesengsaraan yang kalian rasakan itu adalah
anugerah? Jika kalian mau mengkaji maka mungkin kalian menemukan kata anugerah
yang saya maksud dalam kesengsaraan kalian. Tetapi ketika kalian menhyikapi
kesengsaraan itu adalah hal yang menghambat apalagi membuat kaliantidak nyaman
maka kesengsaraan itu tiddak akan menjadi anugerah melainkan malapetaka. Kenapa
demikian? Bayangkan, jika kalian mohon maaf terlilit hutang dan tidak bisa
membayar mungkin cara apapun akan kalian halakan termasuk mencuri. Nah, dari
hal itu bisa disimpulkan bahwa kesengsaraan atau derita yang kalian rasakan itu
cukup kalia syukuri dan berusaha mencari jalan keluarnya dengan cara yang halal
atau baik.
Derita
sendiri saya maknakan sebagai sebah ujian dari Allah SWT. Meskipun memang
membuat saya pusing tujuh keliling tak tertahankan hingga sulit sembuhnya
meskipun minum obat sakit kepala tapi di balik semua itu pasti ada hikmahnya. Jika di
analogikan seperti ini. Setiap sungai memiliki hulu dan di hulu pasti ada danau
atau Samudra yang luas dan indah meski sepanjang sungai banyak batu besar.
Analogi tersebut bermakna semua yang sulit akan berakhir indah pada waktunya.
Jika
disederhanakan, mungkinkah ada dari kalian yang mengejar angan? Pasti ada.
Tetapi angannya tidak tercapai, pasti ada. itu adalh salah satu bentuk derita
dan kesengsaraan kita. Tapi mungkin
kalian heran ketika angan kalian tidak tercapai toh hidup kalian aman aman
saja, baik baik saja. Bahkan bisa di bilang lancar badai mantap jiwa raga.
Benar? Benar pastinya.
Kemudian
jika ldi tilik lagi kesengsaraan itu ada saat ingin mengejar angan. Semisal
ketika kalian ingin menjadi seorang penulis maka kalian akan menulis dan
menulis hingga kalian mahir menulis. Bahkan sampai hampir gila gara gara ingin
menulis. Ya seperti saya ini, kalua ada ide yang belum tertuang dan belum bisa
mengetik karena waktu penggunaan laptop yang di batasi oleh kegiatan lain, saya
akui saya akan seperti suami yang bingung menunggu istri lahiran, atau bisa
sepeti pecandunarkoba yang sakau. Namun, jika kalian berusaha terus menerus
pasti akan berhasil mencapai tujuan kalian, itulah yang saya percayai. Karena
kata guru saya dulu “tidak ada usaha yang mengianati hasil, yang ada pacar
menghianati hati.” Eaaaaaa.
Kembali
ke topik pembahasan. Dari survey yang saya temui dan orang orang besar yang
saya ikuti seminarnya sebut saja salah satunya Habiburrahman El SHirazy. Beliau
bercerita bahwa dulu beliau tidak sejago sekarnag menulis namun berkat usaha
beliau bisa terlihat bagaimana tulisan beliau sekarang bukan. Lucunya dari
cerita beliau, katanya belaiu mulai menulis itu karena The Power Of Kefefet semasa kuliah di Al Azhar dulu. Meskipun
ketika SMA beliau memang sudah suka menulis. Tapi mari ambil sisi kesengsaraan
beliau. Tulian beliau saat pertama kali di setorkan pada editor, di tolak.
Kemudian beliau hharus merevsi lagi selama tujuh hari. Kalau revisi tulisan
sendiri mah gampang tetapi hebatnya beliau harus merevisi terjemaha dari Bahasa
Arab ke Bahasa Indonesia.
Nah,
bisa kita mabil sisi positifnya. Beliau sengsara saat dulu di kampus. Tetapi
kita lihat sekarang bagaimana beliau, bagaimana hebatnya beliau. Seperti itulah
kesengsaraan berputar. Suatu saat kita bisa di bawah suatu saat kita akan di
atas. Kehidupan ini selalu berputar. Jadi ambil hikmah daris seetiap
kesengsaraan yang kamu dapatkan, Insyallah membawa berkah. Entah untuk hidupmu
ataupun untuk hidup orang lain. Karena sesunggungnya kita hidup di dunia ini di
penuhi nikmat sesuai dengan firman Allah :
fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān (ar-rahman:16)
artinya :Maka nikmat Tuhanmu yang manakah
yang kamu dustakan?
Jadi
marilah kita menjadi pribadi yang terus berfikir kesengsaraan adalh hikmah.
Terus jalani hidup sebgaimana kamu ingin berjalan. Kalau kata orang orang sih
positif thingking aja. Eitt, tapi jangan lupa usaha juga perlu. Karna kalau
usaha doang mah itu Namanya sombong.
Semoga Bermanfaat
Tinggalkan Komen ya,,
Jangan lupa share
0 Comments