PISA melaporkan bahawasanya
Indonesai merupakan negara dengan urutan 73 dari 74 negara dalam hal membaca.
Hal yang dilaporkan PISA ini merupakan masalah yang telah menggerogoti negara
tercinta Indonesia. Penelitian PISA ini merupakan salah satu bentuk teguran
bagi pemerintah di Indonesia untuk meningkatkan tingkat keterbacaan. Hal yang
telah disampaikan PISA ini memang tidak bisa lagi di tolak atu ditampik oleh
Indonesia. Masih banyak daerah di Indonesia yang memiliki masalah membaca
bahkan ada beberpa daerah yang terindiksai memiliki maslah yang lebih besar
yakni msalah buta huruf.
Permsalah permalsahan yang
telah dialami oleh Indonesia ini banyak mendapat simpati dari masyarakt. Terutama
yang bergerak dalam bidag literasi. Budaya literasi memang sangat dibutuhkan
oleh Indonesia terlepas dari naik atau tidaknya indonesisa dalam peringkat
keterbacaan milik PISA. Indonesai harusa selalu menanamkan budaya membaca untuk
msayrakatnya terutama anak anak sedini mungkin.banyak daearh yang kini telah
memulai untuk membangun budaya literasi. Selain masayarkat disinyalir pula
sekolah sekolah pun memulai budaya dengan membaca buku 10 menit di pagi hari
untuk sleuruh siswanya.
Kementrian kebudayaan dan
pendidikan juga memulai untuk membudayakan literasi. Gerkan gerakan literasi
mulai terbentuk di daerah besar sampai kecil. Mulai dari pojok baca,
perpustakaan keliling, hingga membangun perpustakaan di daerah daerah terpencil
etlah dilakukan oleh rakyat Indonesisa. Anak anak mulai diajarai unutk membaca
sedari dini. Bukan hal yang tidak mungkin bagi anak yang sudah reamja atau
beranjak dewasa untuk membiasakan diri membaca. Ali bin abi thalib mengatakan
tidak ada batasan usai dalma meuntut ilmu. Dan suatu penelitian mengatakan
untuk menciptakan kebiasaan perlu waktu 90 hari agar kebiasaan itu menjadi hal
yang meleka pada diri seseorang.
Apabila seseorang sudah
membiasakan diri untuk membaca sselama 90 hari maka kebiasaan tersebut akan
melekat padanya. Sehingga sulit untuk melepas kebiasaan yang telah dibangun
tersebut. Hal inilah yang juga mendorong guru guru di sekolah untuk menciptakan
pojok baca di kelas. Selian itu sekolah sekolah juga mulai memperbaharui
koleksi buku di perpustakaan guna menciptakan insan yang suka membaca. Guru meyakini
bahwa pendidikan di sekolah formal akan banyak mempengaruhi sikap dari peserta
didik. Kebiasan kebiasaan di sekolah akan mempengaruhi pula pada pola hidup
anak nantinya.
Semua yang terjadi di
masyarakat berawal dari pendiidkan di skeolah. Entah sekolah itu akan berwujud
formal atau informal namun, yang lebih banyak berperan adalah sekoalh formal
karena didukung oleh pemerintah dan jumlahnya yang banyak. Bukan hal yang
mustahil pula untuk sekolah informal menanamkan kebiasaan membaca pada peserta
didiknya. Karena peserta didik di sekolah informasl bisanya cenderung sedikit
dan dapat dikontrol. Selain membuat anak terbiasa untuk membaca guru juga
terkadang menyiasati agar murid mau membaca dengan iming iming nilai. Seluruh hal
yang dilakukan merupakan perwujudan dari msayarakat Indonesia yang tak ingin
kalah saing dengan negara negara lain.
Kegiatan dan seluruh perubahan
yang telah terjadi dimaulai daris eorang guru yang emngajrkan muridnya. Apabila
guru kurang bisa untuk mengajr dan mendidik muridnya maka guru itu bisa
dikatakan gagal mendidik manusia Cerda dan gagal untuk emmakmurkan negeri. Kebiasan
kebisaan literasi bukan hanya ebrdampak untuk peringkat keterbacaan Indonesia dalam
data PISA namun juga berdampak untuk kehidupan peserta didik atau orang
membaca tersebut. Semakin banyak membaca maka semakin banyak ilmu yang
diperoleh. Seperti kata pepatah “buku adalah jendela ilmu.” Jadi tunggu apalagi
ayo membaca!!

0 Comments