fleksibelitas

         


            Fleksibilitas adalah sikap yang harus di punyai masing-masing individu di Indonesia, dalam hal ini terkait dengan Baik dan buruk. Entah kata, ataupun sikap semuanya dinilai berdasarkan dua perspektif ini. Kalau tidak baik ya buruk. Namun dua hal ini pun sebenarnya relatif bentuknya karena masing masing orang memiliki pandangannya sendiri terhadap dua hal ini. Bisa jadi saya menganggap menulis itu baik, dan orang lain menganggapnya buruk. Seperti itulah dilema yang terjadi di dunia ini. Terkadang seseorang juga memaksakan hal buruk agar bisa dilihat baik oleh orang lain. Atau bisa di bilang mementinngkan ego sendiri.
                Simak dan baca baik baik. Mengenai hal baik pastilah setiap orang memiliki pandangannya masing- masing. Seperti contoh  dalam bahasa jawa, banyak perbedaan. Bahasa jawa di daerah jawa timur apabila menggunakan kata “koen” sebagai panggilan kepada teman sejawat itu sudah lumrah . Sedangkan di daerah jawa tengah menggunakan kata “koe” karena kata “koen” dinilai agak sedikit kasar. Ini adalah contoh dua perspektif berbeda walaupun sama sama dari jawa.
                Contoh lain di daerah madura. Saat anda pergi ke madura terutama di Bangkalan yang kultur bahasanya bercampur aduk menjadi satu. Setiap kecamatan bahkan desa bisa memiliki banyak perbedaan bahasa untuk “kamu.” Nah, dari hal tersebut dapat di Tarik kesimpulan bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia di tuntut memilki jiwa fleksibelitas. Barulah setelah hal ini di tanamkan dan tumbuh dengan baik maka akan tumbuh tas-tas yang lain seperti sikap solidaritas yang kita idam idamkan sejak dulu dan masih banyak sikap ber-imbuhan tas yang lain.Begitulah perspektif baik dan buruk jika di lihat dari bahasa. Membahas mengenai bahasa saya mendapat pengalaman yang bisa di bilang mengenakkan bisa di bilang tidak mengenakkan saat saya berinteraksi dengan teman sejawat di asrrama. Kebetulan kampus saya berasrama, dan insyaallah akan membuka pendaftaran penerimaan mahasiswa baru bagi yang berminat (niatnya sih promosi 😊 ).
                Kembali lagi ke pembahsan, saya akan bercerita. Semalam saya menegur teman saya dengan kata kata seperti ini “cuy mintak tolong kalau mau bicara ngobrol-ngobrol silahkan di luar aja soalle saya mau tidur.” Tiba tiba salah satu dari perkumpulan yang saya tegur menjawab dengan intonasi penuh emosi jiwa urat dada hingga keluar, “kalau mau negur, ya negur aja langsung gak usah gitu negurnya.” Dalam hati saya bertanya, “terus tadi saya bukan negur? Apa di kira jualan pindang?” kemudian dia ngegas lagi, “tadi itu bukan negur tapi nyindir.” Mungkin bisa di tilik lagi apakah kata kata saya itu sebuah teguran sapaan atau promosi saya tidak paham. Tapi begitulah perspektif seseorang.
                Namun hal menariknya dia di akhir katanya yang meledak ledak seperti letusan gunung Krakatau itu “setiap orang itu berbeda-beda.” Kata inilah yang saya ambil, dan jika di kaji setiap orang memang berbeda. Namun apakah kita sebagai pendatang yang hidup di lingkungan seseorang tidak bisa mengikuti kultur yang ada. Begitulah pertanyaan saya. Jadi berbeda perspektif itu boleh karena seperti yang saya bahas dari awal tadi baik buruk itu realtif. Tetapi, tempatkan pula kerelatifan anda sebagai warga Indonesia yang baik (menaati peraturan menjaga adab di daerah yang di tempati). Bukan sak kareppe dhewe karna meski kita berada di dalam satu ruang lingkup yang sama nyatanya kita berbeda, dari perbedaan itulah kita dapat belajar menghargai budaya orang lain.
                Meskipun berada di dalam asrama sekalipun. Kita tidak boleh terlalu mempertahankan kalau kita yang benar dan selalu benar apalagi ingin dimengerti orang lain tapi caranya marah-marah. Kapan mau mengertinya kalau marah-marah sampai keluar urat nadi gitu. Mau nagapain mang, tengkar mah udah gak jaman sekarang.untuk anda yang masih memiliki ego tinggi dan tidak mau memandang perspektif baik buruk  yang relatif mulai dari sekarang. Berubahlah! Cobalah untuk memahami orang mana dia sebelum anda marah marah, kemudian jiak sudah dipastikan  tegurlah ia jika memang tidak suka dengan kepala yang (normal) tidak panas tidak pula dingin, jelaskan bagiaman harusnya ia menegur anda. Ingat Baik Buruk itu relatif. Tanamkan dalam jiwa (Felsibelitas Tanpa Batas Untuk Indonesia Emas) Jadilah Masyarakat yang hebat! Kalian bisa!

Semoga bermanfaat.
Janagn lupa tinggalkan komentar dan share.



Sumber Gambar: https://www.google.com/urlsa=i&source=images&cd=&ved=&url=https%3A%2F%2Fwww.radioidola.com%2F2018%2Fmilenial-menjadi-penentu-indonesia-emas-tahun-2045-bagaimana-menyiapkan-dan-memuluskan-jalannya%2F&psig=AOvVaw1lNV40U3jShgSBIl7Xk-Up&ust=1545706903464457

You Might Also Like

0 Comments